Seri Mengenal al-Qur'an - 21 al-Anbiya'



بسم الله الرحمن الرحيم

Pertemuan Ke-21, Ahad, 2 September  2018 M/ 21 Dzul Hijjah 1439 H.

SMQ 21 : al-Anbiya’

✅ Sebab Penamaan
Dinamakan al-Anbiya’ (Nabi-Nabi) karena di dalam surah ini Alloh Ta’ala menyebutkan beberapa orang nabi. Terkadang diungkapkan dengan kisah yang ringkas & terkadang panjang. Menyebutkan tentang usaha, kesabaran & pengorbanan mereka di jalan Alloh Ta’ala demi untuk menyampaikan dakwah yang dapat membahagiakan manusia.

✅ Tergolong Surah Makiyyah
(turun sebelum periode Hijrah Nabi Ke Madinah)

✅ Termasuk Surah al-Mi’un
(surah yang jumlah ayatnya mencapai ratusan).

✅ Lokasi : Pada Juz 17

✅ Jumlah Ayat 112

✅ No Urut 21 dalam Mushaf

✅ Turun setelah surah Ibrohim

✅ Isi Pokok Suroh al-Anbiya’ :
1. Keimanan :
Para Nabi & Rosul itu selamanya diangkat Alloh dari jenis manusia. Langit & bumi akan binasa kalau ada tuhan selain Alloh. Semua Rosul membawa ajaran Tauhid & keharusan manusia menyembah Alloh. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Cobaan Alloh kepada manusia ada yang berupa kebaikan & ada pula yang berupa keburukan. Hari kiamat datangnya dengan tiba-tiba.
2)  Kisah-Kisah :
Kisah Nabi Ibrohim AS. Himbauan Nabi Ibrohim kepada ayahnya untuk menyembah Alloh. Bantahan Nabi Ibrohim terhadap kaumnya yang menyembah berhala. Bantahan Nabi Ibrohim terhadap Namrudz yang menganggap dirinya tuhan. Kisah para Nabi lainnya seperti kisah Nabi Nuh AS, Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Ayyub AS, Nabi Yunus AS & Nabi Zakariyya AS.

✅ Topik-Topik Berdasar Penggalan Ayat Secara Terperinci :
🔅 Kelalaian manusia tentang hari kiamat & sikap kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad serta al-Qur’an (Ayat 1-6)
🔅 Jawaban atas tuduhan kaum Musyrikin (Ayat 7-10)
🔅  Cara Alloh membinasakan orang kafir (Ayat 11-15)
🔅Tujuan penciptaan Alam (Ayat 16-20)
🔅 Bukti-bukti kesesatan kaum Musyrikin (Ayat 21-29)
🔅 Fenomena Alam sebagai bukti kekuasaan Alloh (Ayat 30-33)
🔅 Hidup manusia di dunia tidak kekal (Ayat 34-36)
🔅 Watak & Perilaku Manusia (Ayat 37-41)
🔅 Ketentuan Alloh tidak dapat ditolak (Ayat 42-46)
🔅 Keadilan Alloh (Ayat 47)
🔅 Kisah Nabi Musa & Harun (Ayat 48-50)
🔅 Kisah Nabi Ibrohim AS (Ayat 51-56)
🔅 Nabi Ibrohim menghancurkan berhala-berhala (Ayat 57-70)
🔅 Berbagai kenikmatan yang diperoleh Nabi Ibrohim (Ayat 71-73)
🔅 Sekelumit kisah Nabi Luth & Nabi Nuh (Ayat 74-77)
🔅 Kisah Nabi Daud & Nabi Sulaiman (Ayat 78-82)
🔅 Kisah Nabi Ayyub (Ayat 83-84)
🔅 Nabi Ismail, Nabi Idris & Nabi Dzulkifli (Ayat 85-86)
🔅 Kisah Nabi Yunus AS (Ayat 87-88)
🔅 Kisah Nabi Zakariyya, Nabi Yahya & Ibunda Maryam (Ayat 89-91)
🔅 Kesatuan Umat (Ayat 92-97)
🔅 Keadaan Orang Musyrik & orang Mukmin di akhirat (Ayat 98-104)
🔅 Orang yang berhak mewarisi bumi Alloh (Ayat 105-107)
🔅 Keesaan Alloh (Ayat 108-112)

✅ Tujuan Utama : 
Membuktikan keniscayaan kiamat & kedekatannya.

✅  Munasabah (keterkaitan antar Surah) :
Terdapat keterkaitan antara Surah al-Anbiya’ dengan Surah Thoha. Surah Thoha diakhiri dengan penjelasan bahwa manusia mudah dipengaruhi oleh kenikmatan hidup duniawi. Sedangkan pada surah Al-Anbiya’ ditegaskan bahwa manusia selalu lalai & lupa terhadap perbuatan-perbuatan yang harus dilaksanakannya sebagai bekal menghadapi hari kiamat & hisab di akhirat nanti.

✅ Fakta Menarik Seputar Suroh al-Anbiya’:
▪ Banyak Disebutkan tentang Nama & Kisah Nabi 
Dalam al-Qur’an terdapat dua surah yang paling banyak menyebutkan kisah para Nabi yaitu Surah al-An’am & Surah al-Anbiya’ ini. Disebutkan sebanyak 18 Nabi dalam surah al-An’am. Sementara surah al-Anbiya’ ini menyebutkan nama 16 Nabi. Namun pada surah al-An’am uraian tentang ternak (al-An’am) lebih menonjol maka surah tersebut tidak disebut denagn nama al-Anbiya’. Justru surah ke-21 ini yang diberi nama al-Anbiya’ di samping karena uraian tentang Nabi lebih menonjol juga karena ia turun lebih dulu dari Surah al-An’am.
Adapun ke-16 nama Nabi yang tersebut dalam surah al-Anbiya’ ini adalah :
1 & 2.  Nabi Musa & Nabi Harun (Ayat 48)
3. Nabi Ibrohim (Ayat 51, 60, 62, 69)
4.  Nabi Luth (Ayat 71) 
5. & 6. Nabi Ishaq  &  Nabi Ya’qub (Ayat 72) 
7. Nabi Nuh (Ayat 76) 
8 & 9. Nabi Dawud & Nabi Sulaiman (Ayat 78-91) 
10. Nabi Ayyub  (ayat 83)
11, 12 & 13. Nabi Ismail, Nabi Idris & Nabi Dzulkifli (Ayat 85)
14. Nabi Yunus (Dzun Nun, ayat 87)
15. Zakariyya (Ayat 89).
16. Nabi Yahya (Ayat 90).

▪ Tiga Ayat pengingat “Lalai”
Surah al-Anbiya’ diawali secara berurutan dengan tiga ayat (ayat 1-3) yang berisi peringatan akan bahayanya sifat lalai ini. Alloh Ta’ala berfirman :
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (1) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2) لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (3) [الأنبياء : 1 - 3]
(1) Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (2) Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (3) (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu, Padahal kamu menyaksikannya?"
Memahami hal di atas, Dr Fadhil as-Samro’I dalam karyanya “lamsat Bayaniyyah Lisuwar al-Qur’an al-Karim”  mengatakan :
لمسات بيانية لسور القرآن الكريم - (1 / 3)
والناس ينقسمون في كل العصور إلى أنواع ثلاثة لا رابع لهم: إما التقاة المؤمنون بالمنهج وإما العصاة المشركين وإما الفئة الغافلة الذين هم بين الفئتين فهم مؤمنون بالمنهج إلا أن أعمالهم وتطبيقاتهم لا تدل على ذلك. وهذه الفئة هي التي تحتاج إلى المجهود الأكبر لما في الغفلة من خطورة. ولهذا بدأت السورة بالآية (اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ) آية 1 لتدل على خطورة الغفلة وأهمية الذكر ودور الأنبياء يكون في تذكير الغافلين بخطورة غفلتهم ودعوتهم للذكر والتذكر.
“Manusia itu terbagi menjadi 3 macam di setiap masa itu. tidak ada macam yang ke-4. Yaitu (1). Orang-orang yang beriman yang mengikuti manhaj. (2). Orang-orang yang ahli maksiat dari kaum Musyrik, dan (3). Kelompok orang-orang yang lalai. Mereka di antara dua kelompok ini. Mereka beriman terhadap Jalannya para Nabi tapi amal & perilaku mereka bertentangan dengannya. Kelompok seperti inilah yang butuh pada usaha yang besar karena bahayannya sifat lalai ini. karenanya surah ini diawali dengan ayat yang berisi tentang “lalai”  supaya menunjukkan bahayanya lalai pentingnnya peranan para Nabi dalam mengingatkan kelompok orang-orang yang  lalai itu  tentang bahayanya sifat lalai & mengajak mereka agar kembali ingat”.

✅ Hadis Yang Terkait
Di antara hadis yang menunjukkan keutamaan suroh al-Anbiya’ adalah sebuah riwayat yang terdapat dalam Shohih al-Bukhori berikut :
صحيح البخاري ـ حسب ترقيم فتح الباري - (6 / 121)
4739- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ يَزِيدَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالْكَهْفُ وَمَرْيَمُ وَطَهَ وَالأَنْبِيَاءُ هُنَّ مِنَ الْعِتَاقِ الأُوَلِ وَهُنَّ مِنْ تِلاَدِي.
Dari Abdurrohman bin Yazid ia berkata saya mendengar Shohabat Ibnu Mas’ud ra berkata : ((surah Bani Isroil (al-Isro’), al-Kahfi, Maryam, Thoha & Al-Anbiya’ merupakan “al-Itaq al-Awal”  (sesuatu yang sangat baik yang terdahulu. Maksudnya mengandung kisah-kisah yang terbaik seputar para Nabi & umat terdahulu). Dan termasuk “Tiladi” (secara bahasa artinya harta pusaka yang sudah lama tersimpan. Yang dimaksud di sini bahwa surah-surah tersebut termasuk dalam surah yang pertama kali dibaca & dihafalkan dari al-Qur’an karena termasuk Makiyyah) )).
Di samping itu surah al-Anbiya’ termasuk kelompok al-Mi’un (Surah yang jumlah ayatnya mencapai ratusan). Dan Nabi Saw bersabda tentang keutamaan surah yang masuk dalam kelompok al-Miun :
مسند أحمد بن حنبل - (4 / 107)
))أعطيت مكان التوراة السبع وأعطيت مكان الزبور المئين وأعطيت مكان الإنجيل المثاني وفضلت بالمفصل ((تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده حسن
“Aku diberikan as-Sab’u ath-Thiwal yang kedudukannya sebanding dengan Taurot. Al-Miun yang kedudukannya sebanding dengan Zabur. Al-Matsani yang kedudukannya sebanding dengan injil. Dan aku diberikan keunggulan dengan al-Mufashshol”.Hr Ahmad, Abu Dawud ath-Thoyalisi, al-Baihaqi & ath-Thobroni.

Mari berdoa
اللّهُمَّ ثَبِّتِ الْقُرْاَنَ وَالْعِلْمَ فِيْ صُدُوْرِنَا وَوَفِّقْنَ لِلْعَمَلِ بِهِمَا
(Ya Alloh Tetapkanlah al-Qur'an & ilmu pengetahuan dalam hati kami. Dan beri kami Taufiq (pertolongan) untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari).
امين. يا مجيب السائلين
(MAMM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur