Cabang-cabang Keimanan - Tebarkanlah Salam di Antara Muslim

Cabang-cabang Keimanan - Tebarkanlah Salam di Antara Muslim
Ust. Bahrul Ulum, MPI

Bismillah

Dr. Jamal, murid Pak Natsir dari Malaysia menceritakan Pak Natsir sebelum bergabung dalam pemerintahan. Beliau sudah membuat pembinaan-pembinaan yang luput dari pembinaan kyai-kyai pada saat itu. Saat itu kyai-kyai NU lebih memusatkan pada penjelasan menyangkal komunisme dan syiah. Beliau melakukan pembinaan kecil non-formal hingga berbuah aktivis-aktivis Islam yang tersebar di DDI, Persis, Masyumi, dll. Mereka mewarnai keislaman di Indonesia di berbagai bidang.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah tersebut adalah perlunya membangun komunitas mulai saat ini, membentuk jaringan untuk bergerak bersama membina umat. Coba bayangkan, kalau tidak ada pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh Pak Natsir, Kyai Hasyim Asy'ary, dan ustad-ustad lain, mungkin saat ini kita akan merasakan kesusahan dalam mengamalkan Islam.

---

Sesama Muslim berkumpul karena cintanya kepada Allah. Bukti dari cintanya kepada Allah adalah menyebarkan salam. Sebagaimana dari hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.”
Salam di sini bukanlah hanya sebatas mengucapkan salam, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai Islam. Ini harus terus kita lakukan, terlebih lagi musuh-musuh Islam juga melakukan hal yang sebaliknya. Keistiqomahan diperlukan di sini, meskipun tidak mudah. Insya Allah akan ada pertolongan Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Fussilat [41] ayat 30,
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Rabb kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu" 
Kita tak boleh diam hanya asyik dengan ibadah kita. Ibadah itu baik, tetapi belum istimewa. Ibadah itu penting untuk membangun ruhiyah kita, untuk memperkokoh iman kita, untuk melembutkan hati kita.

Kita mungkin kalah persiapan dengan musuh-musuh Islam tetapi bukan menjadi alasan kita untuk pesimis. Kita harus membuktikan, bahwa kita akan menang dengan pertolongan Allah. Namun, syarat-syaratnya harus terpenuhi. Kita tidak boleh diam, kaderisasi harus tetap berjalan lillahi ta'ala.

Qatadah pernah bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah jabat tangan itu dilakukan diantara para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ?" Anas menjawab: "Ya." (HR. Al Bukhari, 5908). Ini menandakan bahwa para Sahabat sudah menyatukan hati dan pikiran mereka. Berbeda dengan kita. Apabila hati dan pikiran kita belum sama, berjabat tangan rasanya enggan, atau minimal terasa janggal. Menata pemahaman dan membersihkan hati haruslah ada dalam setiap majelis ilmu. [apt]

Sore, Suara Hidayatullah
18 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur