Majelis Jejak Nabi - Perjanjian Hudaibiyah

Bismillah

Jumat, 3 Agustus 2018 | Salim A. Fillah

Perjanjian Hudaibiyah

Dimulai dari ayat yang turun surat Al Fath: Sesungguhnya telah Kami bukakan kepadamu (Muhammad) kemenangan yang nyata. Ayat ini berkaitan dengan perjanjian Hudaibiyyah. Peristiwa ini bermula pada bulan Dzulqadah tahun 6 Hijriyah. Rasulullah beserta para sahabat memulai perjalanan dari Madinah ke Mekah unnuk berhaji memakan waktu 8 hari 7 malam (420 km).

Pada saat itu membawa sekitar 70 unta dan beberapa ratus kambing untuk hadyu - qurban. Bisa dibayangkan, betapa susahnya dikala itu. Ada banyak larangan, dilarang mencukur, memaki wewangian, menutup muka, 8 hari. Baunya luar biasa.

Pada saat itu mereka berhadapan dengan pasukan Khalid. Abu Bakar berpendapat, tidak perlu mengurusi peprangan karena sudah berniat melakukan ihram di Mekah, bertawakal.

Di tengah pperjalanan, mereka bertemu dengan pasukan Quraisy, tapi tidak diapa2kan karena pasukan Muslim berpakaian Ihram, hanya saja mereka diikuti hingga dekat Mekah.

Di gerbang Mekah, meleka dicegat Quraisy, mereka memang mengakui bulan haji haram menumpahkan darah. Tetapi apabila bertemu dengan Rasulullah, mereka lebih memilih untuk membunuh Nabi dan bersedia membayar denda.

Khirasy dari Khuzaah menjadi duta Rasulullah dengan menunggang unta Nabi menuju pusat Mekah. Maka Rasulullah meminta Umar meneruskan misi itu karena dari suku Adi, suku yang dikenal sebagai dutanya Quraisy. Tapi Umar menolak karena orang Quraisy membenci Umar dan Umar pun demikian sehingga bukan terjadi pembicaraan, tetapi adu pedang. Umar merekomendasikan orang yang disayangi Quraisy: Utsman bin Affan.

Berangkatlah Utsman bin Affan di Darun Nadwah. Quraisy tetap menolak kedatangan haji mereka karena apabila diberikan izin, menjadi simbol kemenangan Rasulullah, aib bagi Quraisy. Mereka mempersilahkan Utsman melakukan ibadah Haji, tetapi Utsman menolak kecuali Rasulullah melakukan lebih dahulu. Maka Quraisy pun ditahan, bahkan terdengar kasak-kusuk Utsman dibunuh.

Turun syariat shalat khauf karena ada informasi Quraisy akan menyerang ketika shalat berlangsung. Khalid merasa takjub, bagaimana bisa rombongan Rasulullah mendapatkan informasi bahwa mereka akan diserang ketika shalat? Perenungan ini bermuara 1 tahun kemudian.

Kemudian Rasulullah berkumpul di pohon dan meminta para Sahabat untuk sumpah setia, tidak lari apapun yang terjadi saat itu (Baiatur Ridwan). Tangan kanan Rasulullah pun berada di atas tangan yang lain mewakili Utsman. Baitur Ridwan inilah batas Assabiqunal Awwalun, 1400 sahabat, minal Muhajirin wal Anshar.

Kabar Baiatur Ridwan sampai ke Quraisy. Mereka pun berusaha menggagalkan tekad Rasulullah. Malamnya, rombongan Rasulullah tidur, tak ada yang bangun kecuali matahari sudah terbit. Allah sengaja memberikan pelajaran kepada kita, kapanpun bablasnya, tetap shalat ketika terbangun.

Budail bin Warqa diutus Quraisy untuk bertemu Rasullah. Budail dari suku Khuzaah, seorang penggembala yang menghormati peribadatan. Rasulullah pun menyiapkan kain ihram terbaik dan kambing2 yang sudah diberi tanda untuk qurban. Budail melihat Rasulullah bukan sebagai ancaman karena terlihat niat hnya ingin beribadah. Quraisy pun mengejeknya 'hanya penggembala'. Ia pun marah, mengancam mengadukan ke sukunya (Khuzaah) untuk menduduki Mekah.

Utusan berikutnya adalah Urwah bin Masud ats Tsaqafi, dari Thaif, yang wajahnya mirip Nabi Isa. Ia orang yang buta tetapi santun, ketika berbicara mengelus jenggot lawan bicaranya. Ia pun mendekat ke Rasulullah. Tapi ketika akan memegang jenggot Rasulullah, tangannya dipukul Mughirah bin Syu'bah (kebalik). Ia pun marah. Melihat itu, Abu Bakar pun marah dan melindungi Rasulullah dari bahaya yang akan muncul.

Urwah pun kembali dan menjelaskan betapa dimuliakannya Rasulullah di hadapan para sahabat. Ia menceritakan pengalamannya berbadapan dengan raja-raja lain dan membandingkannya dengan Rasulullah.


Suhayl bin Amr pun menjadi utusan Quraisy berikutn, duta senior. Ia mengatakan kepada Quraisy bahwa kalau ada yang diminta, harus ada yg ditawarkan.
[APT]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 27 an-Naml