Seri Mengenal al-Qur'an - 15 al-Hijr
بسم الله الرحمن الرحيم
Pertemuan Ke-15, Ahad, 26 Agustus 2018 M/14 Dzul Hijjah 1439 H.
SMQ 15 : al-Hijr
✅ Sebab Penamaan
Al-Hijr merupakan sebuaha lokasi di daerah pegunungan yang terletak di Wadi Quro antara Madinah & Syiria.. Lokasi itu juga dikenal dengan sebutan Madaain Sholih. Daerah tersebut dalam surah ini dinamakan al-Hijr yang secara bahasa berarti “Larangan”, disebabkan karena ia terlarang dihuni oleh siapapun selain Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Sholih). Dalam surah ini diceritakan nasib Kaum Tsamud yang dimusnahkan oleh Alloh karena mendustakan Nabi Sholih & berpaling dari ayat-ayat Alloh.
Penyebutan kata al-Hijr dalam surah ini terdapat pada ayat ke-80 & merupakan surah satu-satunya yang menguraikan kaum Nabi Sholih AS dengan menggunkan kata tersebut.
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ
”dan Sesungguhnya penduduk-penduduk kota Al Hijr telah mendustakan rasul-rasul,” (QS al-Hijr : Ayat 80)
✅ Tergolong Surah Makiyyah (turun sebelum periode Hijrah Nabi Ke Madinah)
✅ Termasuk Surah al-Matsani (Surah yang jumlah ayatnya kurang dari seratus & bukan termasuk al-Mufashshol).
✅ Lokasi : Pada Juz 14
✅ Jumlah Ayat 99
✅ No Urut 15 dalam Mushaf
✅ Turun Setelah Surah Yusuf
✅ Isi Pokok Suroh al-Hijr :
1. Keimanan : Kepastian nasib suatu bangsa hanyalah di tangan Alloh. Alloh menjamin kemurniaan al-Qur’an sepanjang masa. Setan tidak dapat naik ke alam malakut karena ada yang menjaganya. Kadar rizki yang diberikan manusia sesuai dengan hikmah & kebijaksanaan Alloh. Alloh memelihara hamba-Nya yang telah mendapat Taufiq dari godaan setan. Alloh di samping mempunyai sifat pengampun lagi penyayang juga mengadzab orang-orang yang ingkar. Manusia akan dihimpun pada hari kiamat.
2. Hukum-Hukum : Larangan melakukan homoseksual. Kewajiban melakukan ibadah selama hidup. Larangan menginginkan harta orang kafir. Perintah kepada Nabi Muhammad Saw agar melakukan dakwah secara terang-terangan. Larangan berputus asa terhadap Rohmat Alloh.
3. Kisah-Kisah : Kisah Nabi Ibrohim AS dengan kaumnya, Nabi Luth AS dengan kaumnya, Kaum Nabi Syuaib & Kaum Nabi Sholih (Tsamud).
✅ Topik-Topik Berdasar Penggalan Ayat Secara Terperinci :
🔅 Keadaan orang yang ingkar kepada al-Qur’an pada hari kiamat (Ayat1-5 )
🔅 Sikap orang kafir terhadap al-Qur’an (Ayat 6-8)
🔅 Jaminan Alloh Swt terhadap pemeliharaan al-Qur’an (Ayat 9)
🔅 Sikap Umat dahulu terhadap seruan Rosul (Ayat 10-15)
🔅 Tanda-tanda kekuasaan & kebesaran Alloh (Ayat 16-20)
🔅 Alloh sumber segala sesuatu (Ayat 21-25)
🔅 Kejadian manusia, kepatuhan malaikat & kedurhakaan Iblis (Ayat 26-44)
🔅 Berbagai kenikmatan Surga bagi orang yang bertaqwa (Ayat 45-50)
🔅 Kisah Nabi Ibrohim AS dengan tamunya (Ayat 51-58)
🔅 Kisah Nabi Luth AS dan kaumnya (Ayat 59-77)
🔅 Kisah Kaum Nabi Syuaib & Kaum Tsamud (Ayat 78-86)
🔅 Anugerah Alloh kepada Nabi Muhammad Saw (Ayat 87-99)
✅ Tujuan Utama : menggugah hati pendengar & pembaca ayat-ayat ini sehingga merasakan kehadiran Alloh Swt. & ayat-ayat-Nya yang terhampar di alam raya & terbaca melalui al-Qur’an.
✅ Munasabah (keterkaitan antar Surah)
Terdapat keterkaitan antara Surah al-Hijr dengan Surah Ibrohim. Kedua surah sama-sama diawali dengan kata “alif laam ro” & menerangkan sifat al-Qur’an. Dalam surah Ibrohim, Alloh Ta’ala menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah pembimbing manusia menuju jalan-Nya. Kemudian dalam surah al-Hijr, Alloh menegaskan bahwa al-Qur’an akan tetap dijaga kemurniannya sepanjang masa.
✅ Fakta Menarik Seputar Suroh al-Hijr :
▪ Lafadz “Rubama”
Di antara hal menarik dalam surah ini adalah satu-satunya surah dalam al-Qur’an yang terdapat kata ربما (Rubamaa). Tepatnya pada ayat 2 :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim” (QS. al-Hijr : Ayat 2)
▪ Jaminan Alloh atas Terpeliharanya al-Qur’an
Pada surah al-Hijr ini disebutkan jaminan perlindungan Alloh untuk al-Qur’an Yaitu firman-Nya :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. al-Hijr : Ayat 9)
Dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan:
تفسير الجلالين - (4 / 318)
"وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ" مِنْ التَّبْدِيل وَالتَّحْرِيف وَالزِّيَادَة وَالنَّقْص
“(Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya) dari penggantian, penyimpangan, penambahan dan pengurangan”. Wallohu A’lam.
▪ Ibadah Sampai Ajal Tiba
Ayat terakhir dari Surah al-Hijr ini sering disalahpahami oleh beberapa kalangan. Yaitu ayat ke-99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (QS. al-Hijr : Ayat 99)
Al-Hafidz Ibn Katsir dalam tafsirnya mengingatkan penafsiran yang menyesatkan dari kaum zindiq terhadap ayat di atas. Di mana mereka memahami bahwa al-Yaqin adalah “al-Ma’rifah”. Dengan demikian menurut mereka jika seseorang sudah mencapai maqam al-Ma’rifah, maka sudah gugur kewajiban baginya untuk menjalanakan “Taklif” (perintah agama). Pemikiran seperti itu jelas menyimpang kerena sebagaimana penuturan Ibn Katsir :
تفسير ابن كثير / دار طيبة - (4 / 554)
فإن الأنبياء، عليهم السلام، كانوا هم وأصحابهم أعلم الناس بالله وأعرفهم بحقوقه وصفاته، وما يستحق من التعظيم، وكانوا مع هذا أعبد الناس وأكثر الناس عبادة ومواظبة على فعل الخيرات إلى حين الوفاة.
“Sesungguhnya para nabi alaihimus sala<m, mereka & para sahabat mereka adalah manusia yang paling alim terhadap Allah. Paling mengetahui (ma’rifat) terhadap haq-haqnya Allah & sifat-sifat-Nya. Apa saja bentuk pengagungan yang harus diberikan. Meski demikian, ternyata mereka (para Nabi & Sahabat) justru paling banyak ibadahnya & senantiasa melakukan kebaikan-kebaikan hingga ajal tiba”
Maka sepakat para pakar tafsir bahwa “al-Yaqin” pada ayat di atas adalah “al-Maut”. Di dalam al-Qur’an Suroh al-Mudatsir disebutkan:
قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَ (44) وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَـآئِضِيْنَ (45) وَ كُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِ (46) حَتّٰۤى اَتٰٮنَا الْيَقِيْنُ (47)
”Mereka menjawab, Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat (43). Dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin (44). Bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil), bersama orang-orang yang membicarakannya (45). Dan kami mendustakan hari Pembalasan (46). sampai datang kepada kami kematian (47).” (QS al-Mudatstsir : Ayat 43-47)
Syekh Mutawalli as-Sya’rowi juga memberikan argumentasinya mengapa al-Yaqin pada ayat di atas (QS al-Hijr : 99) adalah “al-Maut”. Ia mengatakan:
وكُلُّنا يعلم أن اليقين المُتفق عليه والمُتيقن من كل البشر ، ولا خلافَ عليه أبداً هو الموت .أما اليقين بالغيبيات فهو من خُصوصيات المؤمن؛ )تفسير الشعراوي( - (1 / 4837)
“Setiap kita sadar betul bahwa keyakinan yang disepakati & diyakini oleh seluruh manusia & tidak Khilaf (perbedaan pendapat) atasnya itu adalah kematian. Adapun keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib itu khusus bagi seorang mukmin saja”.
Dengan demikian perintah Allah agar kita beribadah kepada-Nya itu berlaku terus menerus sampai ajal kita tiba. Wallohu A’lam.
Mari berdoa :
اللّهُمَّ ثَبِّتِ الْقُرْاَنَ وَالْعِلْمَ فِيْ صُدُوْرِنَا وَوَفِّقْنَ لِلْعَمَلِ بِهِمَا
(Ya Alloh Tetapkanlah al-Qur'an & ilmu pengetahuan dalam hati kami. Dan beri kami Taufiq (pertolongan) untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari).
امين. يا مجيب السائلين
(MAMM)
Komentar
Posting Komentar