Cabang-cabang Keimanan : Haramnya Merusak Kehormatan Orang Lain

Cabang-cabang Keimanan: Haramnya Merusak Kehormatan Orang Lain
Oleh Ust. Bahrul Ulum

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan taklim untuk meningkatkan iman kita. Kita dilarang merusak kehormatan orang lain,  bisa dalam bentuk sesuatu yang dipuji baik pribadinya maupun leluhurnya. Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya berita buruk di antara orang-orang yang beriman, maka Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka. Karena orang-orang beriman memiliki kehormatan di mata Allah

Setan sejak dulu tidak suka dengan kita, baik dari manusia dan jin. Oleh karena itu, kita diminta untuk berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya orang yang menuduh orang beriman berzina, maka Allah melaknat mereka.

Terkadang belum jelas beritanya, tetapi manusia mudah menuduh. Manusia memang mudah menilai orang lain, tetapi menilai diri sulit. Ini berkaitan dengan menjaga kehormatan orang lain. Kita seharusnya menutupi kelemahan orang lain, kesalahan orang lain.

Al muslimu akhul muslim. Dia tidak akan menelantarkannya, meremehkannya. Cukup dikatakan seseorang buruk orang yang meremehkan saudaranya. Ada sebuah kisah, seorang ulama, Hasan al Bashri, ada dua orang laki perepmpuan duduk-duduk di sungai dengan botol di sebelahnya. Hasan al Bashri mengira mereka ahli maksiat. Tiba-tiba ada perahu lewat yang tenggelam. Pemuda tersebut segera menolongnya hingga tersisa satu penumpang. Pemuda itu segera menuju Hasan al Bashri, jika kamu merasa baik, tolonglah penumpang itu. Hasan al Bashri pun kaget dan sejak saat itu bersumpah tidak akan suudzon. Perempuan itu adalah ibunya sendiri, botol itu berisi air minum biasa.

Kita sebisa mungkin tidak suudzon. Suudzon bisa kembali pada diri kita. Apabila kita mudah suudzon kepada orang lain maka kitalah orang yang buruk itu. Mencela siapapun itu dilarang, kecuali mencela perawi hadits dalam rangka menyelamatkan hadits. Masalahnya setan itu pintar, kadang kita dibuat tidak nyaman dengan orang lain. Kita berbeda jamaah, kita tidak mau berjamaah. Setan tagu, manusia mudah disesatkan. Namun semenjak Rasulullah diutus, manusia banyak menjadi mukhlisin. Setan tahu susah untuk memurtadkan Muslim, tetapi setan pintar, menyesatkan manusia dengan memecah belah.

Selama ini kita salah, menganggap salah salah satu partai yang jelas-jelas bermasalah. Padahal harusnya kita dekati, apalagi masih banyak Muslimnya. Apabila kita jauhi, maka akan didekati setan dari orang-orang kafir. Oleh karena itu kita dilarang membenci orangnya, tetapi kita membenci perilakunya.

Orang beriman memandang segala sesuatu adalah skenario Allah yang ada hikmahnya. Kita tidak pernah terpikir sebelumnya, ghirah Umat Islam melejit. Ghirah ekonomi naik, ghirah politik naik, ghirah ibadah naik, terlebih lagi ghirah ukhuwahnya mencuat. Memang terkadang tidak mudah. Coba tanyakan, teman-teman HTI bisa merima perppu ormas tidak? Jika ada yang menerima, hebat. Karena segala sesuatu ada hikmahnya. Sebagaimana di Bosnia, saudara-saudara kita dibantai, akhirnya keislaman mereka menguat, yang sebelumnya sangat sekuler.

Kita harus meminta kepada Allah untuk menjaga hati kita. Kita harus yakin bahwa semua amal-amal kita adalah pertolongan Allah, bukan karena usaha kita sendiri. Oleh karena itu, setelah shalat kita beristighfar lalu bersyukur. Kita beristighfar karena mungkin kita belum ikhlas, ada kebanggaan melakukan amal shalih. Kita bersyukur karena Allah memberikan kesempatan untuk shalat.

Suara Hidayatullah, sore yang cerah
Senin, 4 Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur