ITS Cinta Subuh - Masjid dan Pemuda Sebagai Tonggak Awal Kebangkitan Islam

Kajian ITS Cinta Subuh - FSLDKD Surabaya Raya VIII

Masjid dan Pemuda Sebagai Tonggak Awal Kebangkitan Islam

Ust. Jazir, ASP



Sungguh yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat lsya dan Subuh. Andaikan mereka mengetahui keutamaan shalat Subuh dan Isya, niscaya mereka akan mendatanginya dengan merangkak.



Ada 7 golongan yang oleh Allah akan dilindungi di hari yang tidak ada perlindungan kecuali pertolongan Allah [hari kiamat]. Pertama, pemimpin karena pemimpin menentukan kejayaan suatu bangsa. Cokroaminoto [guru Ir. Seokarno] sering mengingatkan, sekelompok domba akan menjadi hebat apabila dipimpin oleh seekor singa karena semuanya akan belajar mengaum. Sebaliknya, sekelompok singa akan menjadi lembek apabila dipimpin oleh seekor domba karena semua akan belajar mengembek.



Muhammad Natsir [perdana menteri Indonesia ke-5] pernah mengeluarkan edaran agar setiap fasilitas umum dilengkapi dengan tempat ibadah. Itu salah satu potret pemimpin yang shalih. Andai saja tidak ada surat edaran tersebut, Masjid Manarul Ilmi ini mungkin tidak ada. Padahal beliau menjabat hanya sebentar, tetapi pengaruhnya luar biasa.



Oleh karena itu kaum Muslimin harus menyiapkan pemimpin. Dalam surat Al Furqan ayat 74, Allah memerintahkan kita untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang bertakwa. Ayat ini sering dibaca dalam keluarga yang beriman, tapi jarang ada yang melaksanakan sehingga kita kesulitan mendapatkan pemimpin.



Monash University pernah meneliti reformasi Indonesia dengan reformasi China. Reformasi kebudayaan China menghasilkan dua jenis manusia, pertama pemimpin-pemimpin yang jahat dan kedua pedagang-pedagang yang licik. Itu karena mereka terdidik begitu ketat dengan doktrin negara dan dilarang membaca buku. Sementara Indonesia tidak punya arah setelah reformasi. Sehingga reformasi itu menghasilkan dua tipe manusia, pemimpin-pemimpin yang jahat dan masyarakat yang apatis. Para pemimpin seringkali korupsi, sementara rakyat tak peduli bahwa negara sedang diambang kebangkrutan. Kita bisa melihat peraturan-peraturan dilanggar secara terang-terangan. Kasus reklamasi misalnya, izin belum keluar, gedung sudah dibangun.



Keluarga kita sedang rapuh. Data DP4 menyebutkan, jumlah perkawinan dalam setahun mencapai 1 juta pasangan. Sementara angka perceraian mencapai 500 ribu kasus. Kasus itu kebanyakan dilaksanakan oleh kalangan guru PNS. Sehingga wajar, tidak ada pemimpin-pemimpin yang bertakwa karena keluarganya rapuh.



Golongan kedua adalah orang-orang yang hatinya terpaut di masjid. Maka semestinya masjid-masjid ini menjadi pembentuk calon-calon pemimpin dengan kecintaan terhadap masjid. Kementrian agama mengatakan jumlah masjid mencapai 900 ribu dengan 1 juta lebih mushala tersebar di 754 kabupaten kota. Hanya saja, orang-orang membangun masjid ibarat menggali kuburan. Semangat membangunnya tinggi, tetapi setelah terbangun tidak ikut memakmurkan masjid sehingga masjid menjadi sepi seperti kuburan.



Takmir masjid tidak melakukan adzan, hanya mengumandangkan adzan. "Hayya alash shalah", tapi hanya diucapkan. Tetangga kanan kirinya tidak diajak. Terkadang dalam perkumpulan sewaktu adzan terdengar, teman-temannya tidak diajak, hanya sebatas meminta izin.



Saya pernah menjadi takmir Masjid Jogokaryan melakukan pendataan siapa-siapa yang sudah mukallaf juga sudah shalat di masjid dan siapa yang belum shalat berjamaah di masjid. Saya membuat gerakan "menshalatkan orang hidup". Saya membuka donatur, tiap yang belum shalat akan disantuni sekian untuk membelikan perlengkapan shalat. Setelah dana terkumpul, saya mengundang warga dengan undangan yang mirip pernikahan, undangan yang begitu apik untuk mengundang shalat berjamaah di masjid.



Tiap setelah subuh saya membuka kopi sebagai penggembira. Setelah 40 hari, ada door prize bagi siapa yang shalatnya paling rajin. Itu diambil dari hadits, siapa yang shalat berjamaah di masjid 40 hari tidak terlambat takbiratul ihram, maka dia akan terbebas dari kemunafikan dan api neraka. Apabila sewaktu Ramadhan keliling membangunkan sahur begitu meriah, sangat mungkin untuk keliling membangunkan warga agar shalat subuh. Mengapa 40 hari di bulan biasa? Mengapa tidak di Bulan Ramadhan? Bulan Ramadhan itu jumlahnya 30 hari. Apabila Ramadhan selesai, biasanya masjid kembali sepi. Orang-orang merasa berat untuk kembali ke masjid karena menunggu Ramadhan berikutnya [menunggu keutamaan Ramadhan].



Bilal naik ke atas masjid hanya 5 kali, sementara Rasulullah lebih sering naik daripada Bilal untuk melihat tetangganya, apakah ada rumah yang asap dapur rumahnya tidak menyala. Apabila tidak menyala, maka Rasulullah mendatanginya untuk membantunya. Apabila tidak membantunya, bisa jadi termasuk orang yang celaka dalam shalatnya karena tidak membantu orang miskin.



Itulah adzan, tidak sebatas mengumandangkan adzan. Sebagus apapun speakernya, tidak mudah menarik orang untuk pergi ke masjid. Menara-menara masjid yang ada sekarang buat apa? Apakah hanya untuk kesombongan masjid, menunjukkan masjid punya kas besar? Kita memang suka omong, tak mau berbuat. Pagi-pagi bangun mengumandangkan “sahur, ayo sahur” tapi tak tahu ada warganya yang tidak punya beras. Kalau sudah begitu, mau sahur apa?



Golongan ketiga adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Betapa banyak jumlah masjid tetapi sepi dari jamaahnya? Seringkali masjidnya dekat, tapi tidak pernah ke masjid, tidak ada yang mengajak. Apabila anak-anak muda terlibat, maka anak-anak ini tumbuh dalam kemasjidan yang peka terhadap kondisi masyarakat.



Turki setelah diruntuhkan kekhalifahnnya, membangun sekolah untuk imam dan remaja masjid. Dari sanalah muncul sosok pemimpin Erdogan yang mengembalikan kejayaan Islam. Pernah ada kudeta dari militer untuk menggulingkan Erdogan. Jam 2 pagi masjid-masjid serempak adzan. Masyarakat paham, itu bukan waktunya subuh, tetapi ada perlawanan. Maka masyarakat pun keluar rumah menghadang tank-tank dan panser militer sehingga gagallah pemberontakan. Kini Turki menjadi negara yang hebat, negara yang bebas dari hutang luar negeri. Turki yang tidak lagi membebek Eropa, tetapi Turki mulai memimpin Eropa.



Indonesia sangat mungkin untuk menjadi negara hebat. Masjid dan pemuda harus disatukan sehingga bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mampu mengembalikan kejayaan Islam di negeri ini. [apt]


Di bawah naungan awan dingin bercahaya, 5 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur