Cabang-cabang Keimanan : Saling Menolong dalam Kebaikan dan Takwa
Cabang-cabang Keimanan: Saling menolong dalam kebaikan dan takwa
Oleh Ust. Bahrul Ulum
Kita punya kewajiban secara aktif dalam menolong dalam kebajikan dan takwa, baik mahasiswa, orangtua, atau siapapun. Al Maidah ayat dua menyebutkan, seorang mukmin memiliki tanggung jawab untuk mengajak kebaikan. Sebagai kepala keluarga, menolong keluarga, istri dan anak tidak cuek terhadap apa yang ada. Harus punya ghirah. Mohon maaf sebagian orang tua dengan alasan demokrasi dalam urusan keluarga, membiarkan keluarganya tidak shalat. Kesalahan kita saat ini, memasukkan konsep-konsep barat dalam urusan keluarga. Betapa banyak suaminya Muslim, tetapi istrinya beragama lain. Atau membiarkan anaknya tidak mengenakan jilbab. Memang boleh dalam urusan pilihan politik menggunakan demokrasi karena itu masalah furu', tetapi masalah ushul masalah aqidah, harus tegas.
Padahal Rasulullah mengtakan ada tiga golongan yang tidak dilihat, di antaranya adalah seseorang yang menghilangkan rain-nya, tanggung jawab. Ibnu hajar mengatakan, harus ada penjagaan dalam amanah yang diterima. Sama di manapun ketika menjabat di organisasi, tak boleh membiarkan anggotanya, tak boleh hanya memunculkan kemaslahatan dari masing-masing anggota, tetapi harus ada aturan di dalamnya. Bukan "demi kemaslahatan bersama" semua diperbolehkan.
Rasulullah mengatakan, seseorang yang dayuts, membiarkan kemaksiatan dalam keluarga adalah bagian dari kemungkaran. Ghirah menunjukkan keislaman kita. Apabila ghirah kita lemah, berarti keislaman kita lemah. Dari sinilah muncul amar ma'ruf mahi munkar.
Tolonglah saudaramu dari didzalimi atau mendzalimi. Diam saja itu kita salah, itu yang membedakan kita dengan orang-orang awam. Orang awam tenang apabila mendapatkan kemapanan dunia, punya rumah, kendaraan, bisa makan, bisa minum. Berbeda dengan orang mukmin, mendapatkan ketenangan apabila Islam diterapkan pada masyarakat. Kita punya amanah dalam mendakwahkan Islam.
Tantangan kita semakin besar, umat-umat lain punya perencanaan dengan pendanaan yang tak kecil. Di Maroko, ada gereja besar yang donaturnya rela memberikan kepingan emas. Padahal konsep agamanya tidak jelas, tetapi donasi memang manusiawi. Kita harus meningkatkan ghirah keislaman kita. Mereka berusaha memadamkan cahaya Islam, sebaliknya kita harus menyalakan cahaya Islam. Ini persoalan umat kita, kita yang menyadari harus menyadarkan yang lain. Umat Islam awam hanya memahamI Islam sebatas ritual, padahal tidak seperti itu.
Allah mudah sekali menolong agamanya, syaratnya kita harus menolong agama Islam sebaik mungkin. Allah tak meminta ada pasukan yang besar, tetapi Allah meminta untuk saling menasihati dalam kebaikan dan takwa. Suatu ketika, Mesir pernah dikepung Tartar dengan pasukan yang begitu banyak. Tetapi karena ketakwaan pasukan Mesir yang berjumlah kecil dengan pimpinan Izzudin Abu Salam, Allah menanamkan rasa takut kepada hati musuh. Pasukan Tartar pun habis. [apt]
Senin, Suara Hidayatullah
Hujan di tanpa henti, 27 November 2017
Oleh Ust. Bahrul Ulum
Kita punya kewajiban secara aktif dalam menolong dalam kebajikan dan takwa, baik mahasiswa, orangtua, atau siapapun. Al Maidah ayat dua menyebutkan, seorang mukmin memiliki tanggung jawab untuk mengajak kebaikan. Sebagai kepala keluarga, menolong keluarga, istri dan anak tidak cuek terhadap apa yang ada. Harus punya ghirah. Mohon maaf sebagian orang tua dengan alasan demokrasi dalam urusan keluarga, membiarkan keluarganya tidak shalat. Kesalahan kita saat ini, memasukkan konsep-konsep barat dalam urusan keluarga. Betapa banyak suaminya Muslim, tetapi istrinya beragama lain. Atau membiarkan anaknya tidak mengenakan jilbab. Memang boleh dalam urusan pilihan politik menggunakan demokrasi karena itu masalah furu', tetapi masalah ushul masalah aqidah, harus tegas.
Padahal Rasulullah mengtakan ada tiga golongan yang tidak dilihat, di antaranya adalah seseorang yang menghilangkan rain-nya, tanggung jawab. Ibnu hajar mengatakan, harus ada penjagaan dalam amanah yang diterima. Sama di manapun ketika menjabat di organisasi, tak boleh membiarkan anggotanya, tak boleh hanya memunculkan kemaslahatan dari masing-masing anggota, tetapi harus ada aturan di dalamnya. Bukan "demi kemaslahatan bersama" semua diperbolehkan.
Rasulullah mengatakan, seseorang yang dayuts, membiarkan kemaksiatan dalam keluarga adalah bagian dari kemungkaran. Ghirah menunjukkan keislaman kita. Apabila ghirah kita lemah, berarti keislaman kita lemah. Dari sinilah muncul amar ma'ruf mahi munkar.
Tolonglah saudaramu dari didzalimi atau mendzalimi. Diam saja itu kita salah, itu yang membedakan kita dengan orang-orang awam. Orang awam tenang apabila mendapatkan kemapanan dunia, punya rumah, kendaraan, bisa makan, bisa minum. Berbeda dengan orang mukmin, mendapatkan ketenangan apabila Islam diterapkan pada masyarakat. Kita punya amanah dalam mendakwahkan Islam.
Tantangan kita semakin besar, umat-umat lain punya perencanaan dengan pendanaan yang tak kecil. Di Maroko, ada gereja besar yang donaturnya rela memberikan kepingan emas. Padahal konsep agamanya tidak jelas, tetapi donasi memang manusiawi. Kita harus meningkatkan ghirah keislaman kita. Mereka berusaha memadamkan cahaya Islam, sebaliknya kita harus menyalakan cahaya Islam. Ini persoalan umat kita, kita yang menyadari harus menyadarkan yang lain. Umat Islam awam hanya memahamI Islam sebatas ritual, padahal tidak seperti itu.
Allah mudah sekali menolong agamanya, syaratnya kita harus menolong agama Islam sebaik mungkin. Allah tak meminta ada pasukan yang besar, tetapi Allah meminta untuk saling menasihati dalam kebaikan dan takwa. Suatu ketika, Mesir pernah dikepung Tartar dengan pasukan yang begitu banyak. Tetapi karena ketakwaan pasukan Mesir yang berjumlah kecil dengan pimpinan Izzudin Abu Salam, Allah menanamkan rasa takut kepada hati musuh. Pasukan Tartar pun habis. [apt]
Senin, Suara Hidayatullah
Hujan di tanpa henti, 27 November 2017
Komentar
Posting Komentar