Cabang-cabang Keimanan: Menjaga Hati dari Dengki

Cabang-cabang Keimanan - Menjaga Hati dari Dengki
Oleh Ust. Bahrul Ulum, MPI

Iman itu ibarat tanah. Tanah itu akan menjadi subur apabila sering mendapatkan air hujan. Hujan itu adalah ilmu. Sebaliknya, apabila jarang mendapatkan hujan, maka hati akan menjadi tandus. Dalam Kitab Shahibul iman ini, Imam Baihaqi membahas.

Bagaimana menjaga hati dari rasa dendam iri dengki dan sebagainya. Kejahatan tidak sebatas mencuri, korupsi. Hati juga bisa melakukan kejahatan, seperti iri dengki, tidak suka tetangganya sukses, dll. "min syarri haasidin idzaa hasad."

Para sahabat begitu luar biasa ketika menerima Islam, penyakit dalam hati rontok. Terbukti ketika Anshar menerima Muhajirin, apakah mereka takut posisinya akan tergantikan? Ternyata tidak, justru menyambutnya. Muhajirin datang tidak membawa apa-apa, tetapi Anshar dengan rela membantu, memberikan lapangan pekerjaan, bahkan rela menceraikan salah satu istri untuk saudaranya. Wajar Allah menjamin mereka menjadi generasi terbaik.

Apabila kita mampu menjaga hati, insya Allah umat akan diberi kemenangan. Dalam sejarah sahabat, para sahabat tak pernah kalah kecuali sekali, sekali itu karena mereka tidak taat. Umar pernah mengatakan, bukan karena jumlah kalian menang, tapi ketaatan kepada Allah kalian diberi kemenangan. Andai kalian bermaksiat, maka tak ada bedanya dengan musuh, kalian akan kalah karena jumlah dan persiapan.

Apabila kita masih memiliki dendam, maka kita termasuk orang jahat yang menghalangi datangnya kemenangan. Dalam kitab ini, tidak terlihat penjelasan melakukan amalan banyak, tetapi lebih membahas amalan berkualitas. Ahsanu amalan, bukan aktsaru amalan. Allah akan memberikan balasan sesuai amalnya, maksudnya adalah kualitas amalnya. Dengki ini secara umum, tidak ada pembahasan khusus, baik mukmin maupun kafir, tidak ada rasa dendam, sebagaimana ketika sahabat ketika dalam peperangan diludahi musuh, sahabat tidak jadi membunuh karena niatnya sudah berubah, bukan berperang karena Allah, tetapi karena dendam pada musuh.

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada kita, kasusnya misalnya, ada orang non-Muslim dari etnis lain yang kaya raya, sementara kita biasa-biasa saja. Kita dilarang iri kepadanya. Janganlah kalian saling iri, saling marah. Suatu ketika ada sekelompok ulama berjalan, bertemu anjing. Salah satu ulama ingin mengusir anjing, tetapi yang lain mencegahnya karena itu menjadi hak dia untuk berjalan terlebih dahulu (pada jalan setapak). "Biarkan kita mengambil jalan lain."

Kisah lain dari riwayat bukhari, tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 malam. Ini masih Muslim, bukan beda partai. Persoalan umat Muslim ini ada pada tataran fiqh dan siyasah, padahal kalam kita masih sama, worldview kita masih sama. Padahal fiqh dan siyasah adalah masalah ijtihadiyah. Imam Ahmad mengatakan, sesungguhnya qunut pada shalat subuh adalah bid'ah, tetapi apabila aku berada di belakang orang yang qunut, maka aku ikut mengamini. Ini masalah kita, kadang kita belum bisa membedakan mana yang ushul mana yang furu'. Apabila sesama Muslim tidak menyapa lebih dari tiga hari, bisa jadi doa kita tidak diterima. Padahal yang pertama kali mengucapkan salam akan dibangunkan surga.

Persoalan hati memang persoalan yang ringan, tetapi Imam Baihaqi mengategorikan sebagai kejahatan. Imam Hasan al Bashri ketika menafsirkan ayat "min syarri haasidin idza hasad" mengatakan, dosa pertama yang pertama terjadi di langit adalah dengki. Termasuk juga yang ada di bumi, pembunuhan manusia pertama. Bukan berarti amal-amal ditinggalkan, jangan jadi orang liberal yang mengatakan, yang penting saya baik, tetapi memang menjaga hati itu penting dengan terus mengejar amal.

Ada lima hal yang kelimanya penting terkait masalah hati. Tidak ada kenyamanan bagi bagi orang yang dengki. Ibnu Athailah mengatakan, semestinya ketika kita disakiti kita tertawa karena orang yang menyakiti itu akan semakin tidak tenang. Kedua, tidak ada muruah bagi orang yang suka berbohong. Tidak ada tipuan bagi orang yang pelit. Justru orang yang pelit lah yang tertipu.

Saya tidak melihat orang yang lebih terdzalimi daripada orang yang dengki, karena akalnya selalu bingung dan hatinya selalu bersedih. Dia melihat segala sesuatu dengan pandangan negatif. Dia tidak punya rasa kasihan terhadap dirinya.

Seorang pendengki memiliki mata elang, selalu mengawasi, mendengki terhadap orang lain.

Alat untuk menjaga hati kita gembur adalah ilmu. Tanpa ilmu, sulit menjaga hati kita. Mau melakukan ini, kita tahu oh ini jangan dilakukan. Itu tak cukup sekali. Mungkin ini selesai, tahun depan kita mungkin lupa. Kita perlu mengulang kembali untuk mengingatkan. Masalah fiqh insya Allah cepat, tetapi masalah hati luar biasa.

Tidak ada jaminan ilmunya tinggi, hafal Al Quran dan hadits membuat dia mampu mengendalikan hatinya. Sejarah mengatakan, khawarij begitu hafal Al Quran dan hadits, tetapi mereka hanya menghafal, tidak mengambil hikmah di balik itu. Sekarang juga muncul, ulama-ulama yang mencela Muslim lainnya, padahal bukan urusan prinsip. Itu karena salah dalam menggunakan metodologi (dan memahami metodologi perlu ilmu). [apt]

Senin, Suara Hidayatullah
Sore berhembus angin, 20 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 27 an-Naml