Cabang-cabang Keimanan - Menjenguk Orang Sakit

Cabang-cabang Keimanan: Perintah menjenguk saudara yang sakit
oleh Ust. Bahrul Ulum, MPI

Rasulullah bersabda, riwayat Ibnu Hazm. Rasulullah memerintahkan para sahabat dengan 7 perkara dan melarang kami dari 7 perkara: menjenguk orang sakit, mengiringi jenzah, mendoakan orang yang bersin, memenuhi sumpah, menolong orang yang terdzalimi, memenuhi undangan, dan membalas salam. Beliau melarang kami menggunakan cincin emas, minum dengan wadah perak, memakai alas duduk dari sutra tebal dan sutra terbaik. Dalam hukum islam ada nas-nas umum, ada taksisnya. Taksisnya adalah larangan itu bagi laki-laki.

Orang yang menjenguk orang sakit itu ibarat orang yang memetik buah surga hingga ia kembali. Ulama mengatakan, menjenguk orang sakit tidak memilih-milih, baik orang shalih maupun orang maksiat, karena tidak ada hadis yang mentaksis hanya untuk orang yang shalih. Kajian ushul fiqh jika mengambil hanya dari satu sisi, akan menghasilkan kesimpulan yang kurang, sebagaimana munculnya perbedaan pendapat di kalangan ulama, sebagian karena kurang lengkapnya kajian.

Menjenguk orang sakit bagian dari iman karena Rasulullah memerintahkan kita. Dalam menjenguk orang sakit, iman bisa bertambah di antaranya karena ada doa yang diucapkan di dalamnya. Salah satu kesenangan orang shalih adalah menjenguk orang sakit. Para ulama dulu setiap ada orang sakit selalu berebut untuk menjenguk, karena para malaikat mengitari orang-orang yang sakit. Amal ini apabila kita istiqamah, akan membawa keistimewaan.

Hukum menjenguk orang sakit secara individu termasuk sunnah, tetapi dalam masyarakat tergolong fardhu kifayah. Apabila tidak ada yang menjenguknya, maka semuanya berdosa. Lebih wajib lagi apabila ada kedekatan kerabat.

Apabila ia menjenguknya di pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya (yang menjenguk) supaya diberikan rahmat Allah subhanahu wata'ala. Apabila ia menjenguk di sore hari, maka malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari.

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Salah satu doa yang diucapkan untuk orang sakit adalah "tak masalah, pembersih do'a insya Allah"

Dalam riwayat lain, ada keutamaan lain, berkaitan dengan menjenguk orang sakit, yakni mengingatkan kepada kematian juga mengingatkan kita untuk bersyukur karena masih diberikan kesehatan, juga Allah menjaminnya sebagai orang yang baik. Selain itu, Allah akan memperlancar urusan dunianya. Malaikat di langit juga mendoakan, baguslah kamu, baguslah kamu. Ada lima perkara, barangsiapa yang melaksanakannya, maka dia termasuk ahli surga: menjenguk orang sakit, berjalan ke masjid [dll].

Menjenguk orang sakit dapat memberikan motivasi bagi yang sakit. Apabila tidak diberi motivasi, dia akan putus asa. Jangan lupa meminta doa dari orang yang sakit, karena Allah membuka hijab orang yang sakit sehingga lebih mustajabah. Orang yang sakit itu bagian dari cara Allah menggugurkan dosa-dosanya, karena ujian baginya. Khawatirlah jika tidak diberi sakit karena Allah tidak menggugurkan dosa-dosa kita. Bukan berarti kita meminta sakit, tapi tetaplah menjaga kesehatan dengan mencemaskan diri Allah tidak mengangkat dosa-dosa kita. Sakit di sini adalah sakit fisik, bukan hati kita. Urusan hati menjadi urusan kita masing-masing, sementara fisik adalah ujian bagi kita. Allah tidak melihat fisik kita, tetapi hati kita. Apabila hati kita tidak baik, kita bisa kecewa apabila fisik kita sakit.

Para ulama dalam persiapan menghadapi ujian besar, melatih diri dengan tidak memenuhi apa-apa yang disenangi dan melakukan hal-hal yang tidak disenangi. Dalam kitab Al Hikam, pernah ada seseorang yang shalat di bawah rimbunnya pohon. Allah pun membisiknya bahwa dia tidak khusyuk shalat karena Allah, tetapi karena sejuknya udara. Itu pelajaran bagi kita, memang manusiawi mencari kenikmatan, hanya saja kecintaan kita terhadap Allah tidak murni. Shalatnya memang sah, hanya saja kita perlu meningkatkan keimanan kita. Coba kita lakukan shalat di tempat yang panas, apakah kita bisa khusyuk?

Wali Allah bukan karena banyaknya amal, tetapi karena bersihnya hati. Bukan karena kuantitas amal, tetapi karena kualitas amalnya. [apt]

Suara Hidayatullah, sore, 16 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur