MPKiK - Urgensi Ilmu dan Memahami Agama

Menata Pemahaman Keislaman Kita (MPKiK) - Urgensi Ilmu dan Memahami Agama (alfiqhufiddin)
Oleh Ust. Mudzoffar Jufri

Ilmu adalah prioritas utama dari lainnya. Allah berfirman dalam surah az Zumar - 9: apakah sama orang-orang yang berilmu dengan yang tidak? Ilmu apa yang dimaksud? Ilmu yang mengantarkan pada keimanan. Dzikrullah yang digabung dengan tafakur (Ulul Albab). Hasilnya adalah takut kepada Allah. Apakah hanya ilmu fiqh, ibadah, halal-haram? Jawabannya tidak.Ali Imran 190-191 menegaskan itu, bahkan ayat itu tidak menyebutkan ilmu syar'i, tetapi ilmu alam. Mereka senantiasa bertafakur, memikirkan ciptaan di langit dan bumi hingga mencapai kesimpulan
"Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." 
Kita tidak mendikotomikan ilmu syar'i berupa ilmu akhirat dan ilmu dunia. Selama ilmu yang dimiliki itu benar, bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain untuk bisa beribadah dengan benar, misal dengan ilmu mekanik, ia mampu mencari rezeki yang halal, mampu menjaga kehormatannya, bisa diinfakkan, itu ilmu yang mengantarkan pada surga. Tidak ada dikotomi dalam ilmu syar'i antara ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Ilmu punya keistimewaan yang sangat tinggi, menjadi prioritas utama sebelum yang lain. Para ulama salafus shalih menegaskan, al ilmu qabla qaul wal amal. Shahih Bukhari menempatkan Bab Ilmu di awal setelah niat. "فاعلم ان الله لا اله الا الله" Perintah di awal adalah pahamilah, "fa'lam". Seseorang melakukan suatu amal tanpa ilmu, bisa jatuh kepada perkara bid'ah. Bid'ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat. Karena kemaksiatan relatif lebih mudah untuk bertaubat daripada orang yang melakukan kebid'ahan. Orang-orang yang mencuri, minum minuman keras, cukup disentuh hatinya, dia akan mudah bertaubat. Sementara orang yang melakukan kebid'ahan, masuk dalam pemahamannya. Apabila dia diajak untuk bertaubat, mungkin akan dilempar sandal.  

Itulah perlunya berilmu sebelum berdakwah. Apabila berdakwah tanpa ilmu, Ia bisa mengajak seseorang pada kesesatan. Termasuk juga dalam memberikan fatwa. Biasanya para mubaligh ditanya suatu perkara. Salah satu contoh adalah di masa Rasulullah, ada salah seorang sahabat yang luka di kepalanya setelah berperang, tetapi Ia dalam keadaan junub. Ia memahami ketika mendapati keadaan junub, Ia harus mandi. Ia pun bertanya kepada temannya apakah ada rukhsah buat dirinya. Temannya pun menjawabnya harus mandi. Maka Ia pun akan mandi lalu sakitnya semakin parah hingga meninggal. Setelah kabar itu diterima Rasulullah, maka Rasulullah marah dan menunjuk temannya sebagai pembunuh. Berdakwah tanpa ilmu yang benar, akibat kerusakannya bisa lebih besar daripada perbaikannya.

Krisis yang terjadi saat ini adalah adanya perang antar dai. Setelah mengikuti kajian, semakin kuat kebenciannya terhadap saudaranya yang berbeda kelompok. Masyarakat semakin terpecah. Itu terjadi karena adanya kerancuan dalam pemahaman. Bukan karena tidak adanya dalil, tapi tidak tertatanya pemahaman, pemikiran, persepsi. Misal, ada hadits Islam akan terpecah menjadi 73 halaman. Apakah hadits itu adalah adanya NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll? Ternyata ulama menjelaskan tidak. Perpecahan yang dimaksud hadits itu adalah perbedaan dalam hal prinsip. Mengurangi rukun iman, menambah rukun iman, mengganti rukun iman, panutannya sudah berbeda, tidak mengakui para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan seterusnya. Sehingga kelompok yang dimaksud adalah adanya khawarij, qadariyah, jabbariyah, syiah, dan kelompok-kelompok lain yang berbeda prinsip. [apt]

Pagi berawan tipis, SDIT Al Uswah Surabaya
Jumat, 2 Muharram 1439 / 22 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Mengenal al-Qur'an - 23 al-Mukminun

Seri Mengenal al-Qur'an - 24 an-Nur