Generasi Al Quran, Generasi Pemimpin
Generasi Al Quran, Generasi Pemimpin
Oleh Ust. Asep Sobari, Lc
Tema-tema dalam Al Quran tidak hanya ibadah, tidak! Sangat kaya raya, luar biasa. Al Quran berbicara kehidupan dalam arti seutuhnya. Apabila kita rangkum, bisa dikatakan bagaimana menjalani kehidupan dengan membentuk hubungan yang tepat dan benar sesuai petunjuk Allah dalam lima hal:
Manusia dengan Allah
Posisi manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai khaliknya, maka hubungan yang harus dibangun adalah manusia menghambakan diri kepada sang Khalik. "Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'budu". Hubungan manusia dengan Allah penciptanya adalah ibadah, dan hanya kepada Allah kita menghamba. Itu inti dari tauhid.
Manusia dengan Manusia
Hubungan sesama manusia harus dibangun dengan adil dan ihsan.
Manusia dengan Alam
Alam sebagai material, sebagai bahan, hubungannya adalah sebagai taskhir, "wasakhkhara lakum maa fil ardhi jamii'a." Taskhir adalah bahwa semua yang diciptakan Allah dalam kehidupan ini adalah fasilitas yang mudah dan dimudahkan Allah karena memang fungsinya agar manusia menjadikan semua ini sebagai sarana yang memudahkan menjadi hamba Allah yang benar.
Terkadang orang salah dalam membenci dunia. Ibnu Taimiyah mengatakan, orang yang membenci dunia, mencela dunia bukan karena mengutamakan akhirat, tetapi terkadang karena gagal mendapatkan dunia, lalu menyerah hingga membenci dunia. Tak boleh membenci dunia, karena dunia ini diciptakan sebagai sarana untuk mendapatkan akhirat.
Abu Ubaidah bin Jarrah, sekretarisnya umat ini, manusia yang sangat jujur, dapat memonitor perjanjian Muslim dengan penduduk lain. Beliau memang miskin, tapi bukan tidak punya skill. Beliau punya skill, yang apabila Ia gunakan untuk dunia, beliau akan menggunakan dengan mudah. Pada masa Umar, beliau menggantikan Khalid bin Walid sebagai panglima perang melawan Romawi, negara terbesar saat itu. Harta rampasan perang sangat lebih dari cukup untuk membuatnya sangat kaya. Pada masa itu, kemakmuran sangat melimpah. Tiap Muhajirin mendapatkan hibah dari Umar 800 juta tiap tahunnya. Tapi mengapa Abu Ubaidah bin Jarrah miskin? Itu memang pilihan beliau. Ketika datang ke rumahnya, Umar pun menangis, "Dunia telah berubah, tapi hanya Engkau yang tidak berubah."
Thalhah bin Ubaidillah memilih jalan yang berbeda. Ia memilih mengambil dunia, menggunakan harta yang didapatkannya untuk bisnis kelas atas. Salah satu riwayat mengatakan, harta yang didapatkannya tiap hari mencapai 100 juta per hari, cash. Padahal belum ada industri saat itu. Thalhah bin Ubaidillah pun hingga khawatir terhadap hartanya, bercerita kepada Aisyah, "Mengapa harta begitu mudah didapatkan? Aku khawatir ini adalah nikmat Allah yang dipercepat hingga Aku tak mendapatkan sama sekali di akhirat." Namun, dengan mudahnya mendapatkan harta tak membuatnya menjadi kikir sehingga Aisyah menjawab dengan teduh. Pun demikian pada masa Ali. Ali menyebut pembunuh Thalhah akan berada di Neraka.
Manusia dengan apa yang dialaminya
Semua yang kita alami di dunia adalah ujian dari Allah sejak hidup hingga akhir hayat. Kaya maupun miskin, susah atau senang, itu ujian. Selama masih hidup, masih ada kesempatan untuk menjawab ujian itu. Semuanya ujian, tak ada bedanya, hanya berbeda soal, intinya sama. Orang yang kaya akan diuji dengan hartanya, orang miskin akan diuji dengan kemiskinannya. Kita diuji dengan pemerintahan, pemerintah diuji dengan rakyat. Apakah dengan adanya kekuasaan yang diberikan kepadanya akan memudahkan rakyatnya, atau justru menyusahkannya? Itu ujian. Sehingga tidak ada satu hal pun yang membuat kita pantas untuk sombong atas apa yang dialaminya.
Hubungan manusia dengan alam akhirat
Setelah mengalami ujian di dunia, kita akan mengalami perhitungan dan pembalasan. Jika di dunia bisa mengatakan berkuasa, di akhirat nanti Allah lah satu-satunya penguasa. Raja diraja. Siapa yang berani mengatakan berkuasa di hadapan Allah? Semua akan terbuka, setiap amal yang kita lakukan. Jika pengadilan di dunia manusia bisa sangat ngeles, membuat pledoi, keberatan ini itu. Sementara di akhirat nanti lidah akan menjadi kelu. Bahkan anggota badan bersaksi atas perbuatan kita.
Penutup
Apabila umat Islam memahami isi Al Quran, akan muncul generasi baru yang luar biasa. Kita perlu belajar dari umat Nabi Musa yang generasinya tercemari Firaun. Setelah diselamatkan dari penindasan Firaun, Bani Israil diberikan Palestina untuk bermukim. Namun, pemberian itu tidak begitu saja, perlu usaha pembebasan Palestina dari orang-orang kafir. Namun, karena sudah tercemari kedzaliman Firaun, mental mereka menjadi rendah sehingga mengatakan kepada Nabi Musa, "Kamu kan hebat, Firaun saja bisa kalah, apalagi hanya pasukan Palestina. Pergilah kamu berdua bersama TuhanMu. Kami akan menunggu di sini."
Karena kemalasan mereka, maka mereka pun ditempatkan di tanah yang tandus, susah untuk mencari makanan. Namun karena kemurahan hati Allah, diturunkan kepada mereka Manna wa Salwa yang melimpah, dapat diambil dengan mudah. Sekali lagi, mereka meminta kepada Nabi Musa, "Ini kenapa makanannya hanya ini? Kamu kan nabi, mintalah doa kepada TuhanMu. Sayur, timur, kacang adas." Padahal Manna wa Salwa adalah makanan yang gizinya luar biasa cukup untuk menyiapkan diri menjadi pasukan untuk berjuang membebaskan, tapi mereka meminta "pecel" karena mental mereka sudah tercemari oleh Firaun. Pada masa Firaun, aqidah mereka dijajah, mereka diberi fasilitas pertanian yang subur sehingga menganggap tak masalah dijajah, asalkan hidup enak bisa makan hasil pertanian.
Setelah itu, Nabi Musa menyiapkan generasi baru 40 tahun lamanya. Generasi yang menjadi pemimpin atas bangsa-bangsa. Mereka menjadi mulia karena kesabaran mereka. Itulah pentingnya proses. Umat ini tak bisa menjadi hebat dengan instan, perlu penggemblengan secara serius dan bertahap. Itu pula yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah nantinya, untuk apa umurmu, untuk apa masa mudamu? [apt]
28 September 2017, Masjid Ar Rahmah bada Subuh
Oleh Ust. Asep Sobari, Lc
Tema-tema dalam Al Quran tidak hanya ibadah, tidak! Sangat kaya raya, luar biasa. Al Quran berbicara kehidupan dalam arti seutuhnya. Apabila kita rangkum, bisa dikatakan bagaimana menjalani kehidupan dengan membentuk hubungan yang tepat dan benar sesuai petunjuk Allah dalam lima hal:
Manusia dengan Allah
Posisi manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai khaliknya, maka hubungan yang harus dibangun adalah manusia menghambakan diri kepada sang Khalik. "Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya'budu". Hubungan manusia dengan Allah penciptanya adalah ibadah, dan hanya kepada Allah kita menghamba. Itu inti dari tauhid.
Manusia dengan Manusia
Hubungan sesama manusia harus dibangun dengan adil dan ihsan.
Manusia dengan Alam
Alam sebagai material, sebagai bahan, hubungannya adalah sebagai taskhir, "wasakhkhara lakum maa fil ardhi jamii'a." Taskhir adalah bahwa semua yang diciptakan Allah dalam kehidupan ini adalah fasilitas yang mudah dan dimudahkan Allah karena memang fungsinya agar manusia menjadikan semua ini sebagai sarana yang memudahkan menjadi hamba Allah yang benar.
Terkadang orang salah dalam membenci dunia. Ibnu Taimiyah mengatakan, orang yang membenci dunia, mencela dunia bukan karena mengutamakan akhirat, tetapi terkadang karena gagal mendapatkan dunia, lalu menyerah hingga membenci dunia. Tak boleh membenci dunia, karena dunia ini diciptakan sebagai sarana untuk mendapatkan akhirat.
Abu Ubaidah bin Jarrah, sekretarisnya umat ini, manusia yang sangat jujur, dapat memonitor perjanjian Muslim dengan penduduk lain. Beliau memang miskin, tapi bukan tidak punya skill. Beliau punya skill, yang apabila Ia gunakan untuk dunia, beliau akan menggunakan dengan mudah. Pada masa Umar, beliau menggantikan Khalid bin Walid sebagai panglima perang melawan Romawi, negara terbesar saat itu. Harta rampasan perang sangat lebih dari cukup untuk membuatnya sangat kaya. Pada masa itu, kemakmuran sangat melimpah. Tiap Muhajirin mendapatkan hibah dari Umar 800 juta tiap tahunnya. Tapi mengapa Abu Ubaidah bin Jarrah miskin? Itu memang pilihan beliau. Ketika datang ke rumahnya, Umar pun menangis, "Dunia telah berubah, tapi hanya Engkau yang tidak berubah."
Thalhah bin Ubaidillah memilih jalan yang berbeda. Ia memilih mengambil dunia, menggunakan harta yang didapatkannya untuk bisnis kelas atas. Salah satu riwayat mengatakan, harta yang didapatkannya tiap hari mencapai 100 juta per hari, cash. Padahal belum ada industri saat itu. Thalhah bin Ubaidillah pun hingga khawatir terhadap hartanya, bercerita kepada Aisyah, "Mengapa harta begitu mudah didapatkan? Aku khawatir ini adalah nikmat Allah yang dipercepat hingga Aku tak mendapatkan sama sekali di akhirat." Namun, dengan mudahnya mendapatkan harta tak membuatnya menjadi kikir sehingga Aisyah menjawab dengan teduh. Pun demikian pada masa Ali. Ali menyebut pembunuh Thalhah akan berada di Neraka.
Manusia dengan apa yang dialaminya
Semua yang kita alami di dunia adalah ujian dari Allah sejak hidup hingga akhir hayat. Kaya maupun miskin, susah atau senang, itu ujian. Selama masih hidup, masih ada kesempatan untuk menjawab ujian itu. Semuanya ujian, tak ada bedanya, hanya berbeda soal, intinya sama. Orang yang kaya akan diuji dengan hartanya, orang miskin akan diuji dengan kemiskinannya. Kita diuji dengan pemerintahan, pemerintah diuji dengan rakyat. Apakah dengan adanya kekuasaan yang diberikan kepadanya akan memudahkan rakyatnya, atau justru menyusahkannya? Itu ujian. Sehingga tidak ada satu hal pun yang membuat kita pantas untuk sombong atas apa yang dialaminya.
Hubungan manusia dengan alam akhirat
Setelah mengalami ujian di dunia, kita akan mengalami perhitungan dan pembalasan. Jika di dunia bisa mengatakan berkuasa, di akhirat nanti Allah lah satu-satunya penguasa. Raja diraja. Siapa yang berani mengatakan berkuasa di hadapan Allah? Semua akan terbuka, setiap amal yang kita lakukan. Jika pengadilan di dunia manusia bisa sangat ngeles, membuat pledoi, keberatan ini itu. Sementara di akhirat nanti lidah akan menjadi kelu. Bahkan anggota badan bersaksi atas perbuatan kita.
Penutup
Apabila umat Islam memahami isi Al Quran, akan muncul generasi baru yang luar biasa. Kita perlu belajar dari umat Nabi Musa yang generasinya tercemari Firaun. Setelah diselamatkan dari penindasan Firaun, Bani Israil diberikan Palestina untuk bermukim. Namun, pemberian itu tidak begitu saja, perlu usaha pembebasan Palestina dari orang-orang kafir. Namun, karena sudah tercemari kedzaliman Firaun, mental mereka menjadi rendah sehingga mengatakan kepada Nabi Musa, "Kamu kan hebat, Firaun saja bisa kalah, apalagi hanya pasukan Palestina. Pergilah kamu berdua bersama TuhanMu. Kami akan menunggu di sini."
Karena kemalasan mereka, maka mereka pun ditempatkan di tanah yang tandus, susah untuk mencari makanan. Namun karena kemurahan hati Allah, diturunkan kepada mereka Manna wa Salwa yang melimpah, dapat diambil dengan mudah. Sekali lagi, mereka meminta kepada Nabi Musa, "Ini kenapa makanannya hanya ini? Kamu kan nabi, mintalah doa kepada TuhanMu. Sayur, timur, kacang adas." Padahal Manna wa Salwa adalah makanan yang gizinya luar biasa cukup untuk menyiapkan diri menjadi pasukan untuk berjuang membebaskan, tapi mereka meminta "pecel" karena mental mereka sudah tercemari oleh Firaun. Pada masa Firaun, aqidah mereka dijajah, mereka diberi fasilitas pertanian yang subur sehingga menganggap tak masalah dijajah, asalkan hidup enak bisa makan hasil pertanian.
Setelah itu, Nabi Musa menyiapkan generasi baru 40 tahun lamanya. Generasi yang menjadi pemimpin atas bangsa-bangsa. Mereka menjadi mulia karena kesabaran mereka. Itulah pentingnya proses. Umat ini tak bisa menjadi hebat dengan instan, perlu penggemblengan secara serius dan bertahap. Itu pula yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah nantinya, untuk apa umurmu, untuk apa masa mudamu? [apt]
28 September 2017, Masjid Ar Rahmah bada Subuh
Komentar
Posting Komentar