Cabang-cabang Keimanan - Menjaga Amanah
Bagaimana menjaga amanah?
Ust. Bahrul Ulum, MPI
Kita ini berdakwah, tidak boleh berhenti menyampaikan amanah yang kita terima.
Intro, ketika ada Muslim yang salah, kita berhak mendialogkan. Kita berbeda dengan Yahudi dan Kristen, hancur karena ketika pembesarnya salah tidak ada yang mengingatkan sehingga kesesatan semakin menyebar. Kita tidak boleh menolak karena orang, sekalipun itu orang Kristen, selama Ia menyampaikan kebenaran, tidak boleh kita tolak.
Wa man ahsanu qoulan min man da'a ilallahi wa amila shaliha.
Kaitan amanah itu sesuatu yang wajib kita sampaikan, apalagi Islam. Rasulullah menyampaikan, tunaikanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah dan jangan berkhianat kepada yang mengkhianatimu. Imam Baihaqi menyebutkan, amanah bisa diartikan titipan, kepercayaan, rasa aman. Rasulullah bersabda, ada tiga hal yang apabila dia termasuk dalamnya maka dia munafik: apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari, apabila diberi amanah berkhianat.
Dakwah saat itu tantangannya besar, kita harus kuat. Dulu tantangannya hanya dari lingkungan sekitar, sementara sekarang tantangannya dari penguasa. Ketika kita mengemban amanah dakwah, kita punya dua cara yang diperbolehkan, bisa tegas terang-terangan atau dengan siyasah. 2 hal ini perlu dilakukan dalam dakwah, semuanya diam-diam tidak bagus, semuanya terang-terangan juga tidak bagus, sebagaimana Imam Ahmad dengan Yahya bin Main. Yahya bin Ma'in dihadapan penguasa bersiyasah, tetapi tetap berdakwah kepada masyarakat.
Islam ini bisa berkembang karena dakwahnya. Apabila ada yang salah, kita tidak boleh diam. Ada yang berpendapat bahwa ketika penguasa salah, kita harus mengingatkannya secara diam-diam. Padahal sahabat dan tabi'in berani menasihati penguasa secara terang-terangan. Saat ini kondisi untuk berdakwah semakin ditekan apabila dibanding dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Kondisi itu bukan berarti membuat kita mundur, tetapi justru kita harus semakin tegar dalam berdakwah. KITA TIDAK BOLEH DIAM.
Abu Umamah menjelaskan, amanah itu menunjukkan kemuliaan Islam bahwa Islam mengurus amanah, sekalipun pada orang yang mengkhianati kita. Memang meskipun kita boleh membalas sepadan yang kita terima, sebaiknya kita berlapang dada.
Pengalaman menceritakan 2 juta yang masuk dalam PKI zaman dulu merupakan Muslim awam. Karena kencangnya permusuhan santri dengan PKI, 2 juta Muslim itu akhirnya justru membenci Islam dan murtad. Kita harus tetap berdakwah kepada orang-orang yang mengkhianati kita. Dengan dakwah itu, menjadi sebab Allah menyentuh hati mereka.
Terus terang, kelemahan umat Islam sekarang adalah sedikit yang peduli dengan dakwah Islam. Artinya apa, kita tidak boleh diam sesuai dengan kapasitas kita. Apabila kita diam, maka kita akan kalah dengan dakwah-dakwah lain. Memang Allah sangat mungkin memenangkan Islam, hanya saja kita harus melakukan dakwah untuk mendapatkan pertolongan Allah.
Lebih baik mengajak daripada ibadah sunnah, lebih baik nongkrong di kafe daripada qiyamul lail. Jangan justru dijauhi. Masya Allah, berhasil mengajak orang dari tidak shalat menjadi shalat, itu lebih utama daripada tekun melakukan shalat sunnah. Jangan dijauhi, jangan dimusuhi, kalau bisa masuk ke sana. Kalau perlu mencukur jenggot agar bisa diterima. [apt]
Sebelum matahari terbenam, 6 November 2017
Suara Hidayatullah
Kita ini berdakwah, tidak boleh berhenti menyampaikan amanah yang kita terima.
Intro, ketika ada Muslim yang salah, kita berhak mendialogkan. Kita berbeda dengan Yahudi dan Kristen, hancur karena ketika pembesarnya salah tidak ada yang mengingatkan sehingga kesesatan semakin menyebar. Kita tidak boleh menolak karena orang, sekalipun itu orang Kristen, selama Ia menyampaikan kebenaran, tidak boleh kita tolak.
Wa man ahsanu qoulan min man da'a ilallahi wa amila shaliha.
Kaitan amanah itu sesuatu yang wajib kita sampaikan, apalagi Islam. Rasulullah menyampaikan, tunaikanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah dan jangan berkhianat kepada yang mengkhianatimu. Imam Baihaqi menyebutkan, amanah bisa diartikan titipan, kepercayaan, rasa aman. Rasulullah bersabda, ada tiga hal yang apabila dia termasuk dalamnya maka dia munafik: apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari, apabila diberi amanah berkhianat.
Dakwah saat itu tantangannya besar, kita harus kuat. Dulu tantangannya hanya dari lingkungan sekitar, sementara sekarang tantangannya dari penguasa. Ketika kita mengemban amanah dakwah, kita punya dua cara yang diperbolehkan, bisa tegas terang-terangan atau dengan siyasah. 2 hal ini perlu dilakukan dalam dakwah, semuanya diam-diam tidak bagus, semuanya terang-terangan juga tidak bagus, sebagaimana Imam Ahmad dengan Yahya bin Main. Yahya bin Ma'in dihadapan penguasa bersiyasah, tetapi tetap berdakwah kepada masyarakat.
Islam ini bisa berkembang karena dakwahnya. Apabila ada yang salah, kita tidak boleh diam. Ada yang berpendapat bahwa ketika penguasa salah, kita harus mengingatkannya secara diam-diam. Padahal sahabat dan tabi'in berani menasihati penguasa secara terang-terangan. Saat ini kondisi untuk berdakwah semakin ditekan apabila dibanding dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Kondisi itu bukan berarti membuat kita mundur, tetapi justru kita harus semakin tegar dalam berdakwah. KITA TIDAK BOLEH DIAM.
Abu Umamah menjelaskan, amanah itu menunjukkan kemuliaan Islam bahwa Islam mengurus amanah, sekalipun pada orang yang mengkhianati kita. Memang meskipun kita boleh membalas sepadan yang kita terima, sebaiknya kita berlapang dada.
Pengalaman menceritakan 2 juta yang masuk dalam PKI zaman dulu merupakan Muslim awam. Karena kencangnya permusuhan santri dengan PKI, 2 juta Muslim itu akhirnya justru membenci Islam dan murtad. Kita harus tetap berdakwah kepada orang-orang yang mengkhianati kita. Dengan dakwah itu, menjadi sebab Allah menyentuh hati mereka.
Terus terang, kelemahan umat Islam sekarang adalah sedikit yang peduli dengan dakwah Islam. Artinya apa, kita tidak boleh diam sesuai dengan kapasitas kita. Apabila kita diam, maka kita akan kalah dengan dakwah-dakwah lain. Memang Allah sangat mungkin memenangkan Islam, hanya saja kita harus melakukan dakwah untuk mendapatkan pertolongan Allah.
Lebih baik mengajak daripada ibadah sunnah, lebih baik nongkrong di kafe daripada qiyamul lail. Jangan justru dijauhi. Masya Allah, berhasil mengajak orang dari tidak shalat menjadi shalat, itu lebih utama daripada tekun melakukan shalat sunnah. Jangan dijauhi, jangan dimusuhi, kalau bisa masuk ke sana. Kalau perlu mencukur jenggot agar bisa diterima. [apt]
Sebelum matahari terbenam, 6 November 2017
Suara Hidayatullah
Komentar
Posting Komentar