Kajian Bulanan Masjid Al Irsyad - Pemuda Mandiri
Pemuda-pemuda Mandiri Pendukung Dakwah Nabi, oleh Ust. Budi Ashari, Lc
Ada dua kata kunci, yakni pemuda dan mandiri. Al Quran menyebutkan tiga fase manusia, yakni lemah, kuat, lemah dan beruban. Kuat ini tentu masa muda, sehingga tak ada kata lemah, loyo, mudah menyerah dalam masa muda. Rasulullah mengatakan, saya ditolong para pemuda dan dicaci maki orang-orang tua. Ini pelajaran bagi orang-orang tua, bahwa pemuda jangan dihambat. Rata-rata orang-orang tua mati kafir. Itu juga pelajaran buat kita semua, kalau mau bertobat jangan tunggu tua, berat, nanti bisa mati kafir. Kalau mau hijrah, segera, tak perlu menunggu tua.
Biasanya anak-anak muda pendiam kepada orang tua karena hormat atau sungkan. Khalifah Umar ketika ada mas@lah meminta pendapat kepada anak-anak muda, bukan orang tua. Padahal orang tua lebih berpengalaman. Tetapi mengapa Umar meminta pendapat anak muda? Jakarta punya masalah banjir, kalau minta pendapat orang tua, pengalaman apa yang mau diambil? Pendapat pemuda diambil karena ketajaman pikirannya.
Lalu, mengapa pemuda sekarang tidak begitu terlihat? Karena banyak melakukan dosa. Dosa membuat manusia tidak merasa tenang. Padahal manusia masuk surga bagi jiwa-jiwa yang tenang. Bagaimana bisa mandiri jika hatinya dipenuhi dengan keragu-raguan?
Salah satu penyebab pemuda tidak bersinar adalah mubazir. Mubazir adalah teman setan, lawan dari kata manfaat. Mubazir tidak hanya seputar harta, mubazir saat ini dimulai dari mubazirnya kurikulum pendidikan, dilanjutkan ke mubazirnya ilmu, hingga parahnya adalah mubazirnya umur. Padahal seharusnya Muslim bermanfaat apapun di manapun.
Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Abdullah bin Abbas bertatap muka dengan Rasulullah pada umur 10 hingga 13. Luar biasanya adalah Abdullah bin Abbas menjadi ulama besar setelahnya. Mengapa bisa seperti itu? Dimulai ketika Abdullah bin Abbas membonceng Rasulullah. Rasulullah memberi nasihat yang membuatnya begitu kokoh, jagalah Allah pasti Allah akan menjagamu. Jika ingin meminta, mintalah pada Allah. Jika memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah dan nasihat untuk memahami takdir. Dalam riwayat lain, ada tambahan, kenalilah Allah di waktu senang, pasti Allah akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa pertolongan Allah datang dengan kesabaran. Bayangkan seorang bocah belum lulus SD mendapatkan nasihat yang begitu dalam.
Para sahabat pada usia muda ditempa secara kokoh dengan pendidikan yang mantap. Saad bi. Abi Waqqas ketika masuk Islam di usia 17 tahun. Ibunya marah dan mengancam anaknya mogok makan hingga anaknya keluar dari Islam atau mati kelaparan. Saad bin Abi Waqqas mengatakan, andai Ibu punya 100 nyawa lalu mati satu persatu, aku tak akan pernah melepas agama ini. Kokoh pendiriannya.
Abdullah bin Umar mengatakan, kematian yang aku sukai setelah mati karena berjihad di jalan Allah adalah aku mati dekat dengan untaku ketika melakukan perjalanan perdagangan.
Suatu ketika, ada pemuda yang meminta makanan pada Rasulullah. Rasulullah menolaknya dan menanyakan apa ada suatu barang di rumah. Pemuda itu menyebutkan barang-barang tak berguna. Rasulullah meminta pemuda tersebut membawanya ke hadapan Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menawarkannya pada para sahabat. Awalnya para sahabat menawarnya murah, tetapi karena memahami ada pemuda yang membutuhkan bantuan, maka ditawar 2 kali dan terbeli 2 dirham. Oleh Rasulullah menyuruh pemuda 1 dirham untuk makan keluarganya, 1 dirham untuk membeli kapak. Setelah beli kapak, Rasulullah menyuruhnya pergi mencari kayu, menjualnya di pasar, dan Rasulullah tidak ingin melihatnya 15 hari. Setelah 15 hari, pemuda datang dengan 10 dirham dengan pakaian bagus. Setelah itu Rasulullah memberi nasihat, bekerja lebih baik daripada mengemis karena mengemis akan membawa noda hitam di wajah ketika hari kiamat. Menghadapi kasus seperti itu, Rasulullah tidak lantas memberi nasihat, tetapi memberi solusi terlebih dahulu. [apt]
Masjid Al Irsyad ketika matahari terbenam, 27 Oktober 2017
Ada dua kata kunci, yakni pemuda dan mandiri. Al Quran menyebutkan tiga fase manusia, yakni lemah, kuat, lemah dan beruban. Kuat ini tentu masa muda, sehingga tak ada kata lemah, loyo, mudah menyerah dalam masa muda. Rasulullah mengatakan, saya ditolong para pemuda dan dicaci maki orang-orang tua. Ini pelajaran bagi orang-orang tua, bahwa pemuda jangan dihambat. Rata-rata orang-orang tua mati kafir. Itu juga pelajaran buat kita semua, kalau mau bertobat jangan tunggu tua, berat, nanti bisa mati kafir. Kalau mau hijrah, segera, tak perlu menunggu tua.
Biasanya anak-anak muda pendiam kepada orang tua karena hormat atau sungkan. Khalifah Umar ketika ada mas@lah meminta pendapat kepada anak-anak muda, bukan orang tua. Padahal orang tua lebih berpengalaman. Tetapi mengapa Umar meminta pendapat anak muda? Jakarta punya masalah banjir, kalau minta pendapat orang tua, pengalaman apa yang mau diambil? Pendapat pemuda diambil karena ketajaman pikirannya.
Lalu, mengapa pemuda sekarang tidak begitu terlihat? Karena banyak melakukan dosa. Dosa membuat manusia tidak merasa tenang. Padahal manusia masuk surga bagi jiwa-jiwa yang tenang. Bagaimana bisa mandiri jika hatinya dipenuhi dengan keragu-raguan?
Salah satu penyebab pemuda tidak bersinar adalah mubazir. Mubazir adalah teman setan, lawan dari kata manfaat. Mubazir tidak hanya seputar harta, mubazir saat ini dimulai dari mubazirnya kurikulum pendidikan, dilanjutkan ke mubazirnya ilmu, hingga parahnya adalah mubazirnya umur. Padahal seharusnya Muslim bermanfaat apapun di manapun.
Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Abdullah bin Abbas bertatap muka dengan Rasulullah pada umur 10 hingga 13. Luar biasanya adalah Abdullah bin Abbas menjadi ulama besar setelahnya. Mengapa bisa seperti itu? Dimulai ketika Abdullah bin Abbas membonceng Rasulullah. Rasulullah memberi nasihat yang membuatnya begitu kokoh, jagalah Allah pasti Allah akan menjagamu. Jika ingin meminta, mintalah pada Allah. Jika memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah dan nasihat untuk memahami takdir. Dalam riwayat lain, ada tambahan, kenalilah Allah di waktu senang, pasti Allah akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa pertolongan Allah datang dengan kesabaran. Bayangkan seorang bocah belum lulus SD mendapatkan nasihat yang begitu dalam.
Para sahabat pada usia muda ditempa secara kokoh dengan pendidikan yang mantap. Saad bi. Abi Waqqas ketika masuk Islam di usia 17 tahun. Ibunya marah dan mengancam anaknya mogok makan hingga anaknya keluar dari Islam atau mati kelaparan. Saad bin Abi Waqqas mengatakan, andai Ibu punya 100 nyawa lalu mati satu persatu, aku tak akan pernah melepas agama ini. Kokoh pendiriannya.
Abdullah bin Umar mengatakan, kematian yang aku sukai setelah mati karena berjihad di jalan Allah adalah aku mati dekat dengan untaku ketika melakukan perjalanan perdagangan.
Suatu ketika, ada pemuda yang meminta makanan pada Rasulullah. Rasulullah menolaknya dan menanyakan apa ada suatu barang di rumah. Pemuda itu menyebutkan barang-barang tak berguna. Rasulullah meminta pemuda tersebut membawanya ke hadapan Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah menawarkannya pada para sahabat. Awalnya para sahabat menawarnya murah, tetapi karena memahami ada pemuda yang membutuhkan bantuan, maka ditawar 2 kali dan terbeli 2 dirham. Oleh Rasulullah menyuruh pemuda 1 dirham untuk makan keluarganya, 1 dirham untuk membeli kapak. Setelah beli kapak, Rasulullah menyuruhnya pergi mencari kayu, menjualnya di pasar, dan Rasulullah tidak ingin melihatnya 15 hari. Setelah 15 hari, pemuda datang dengan 10 dirham dengan pakaian bagus. Setelah itu Rasulullah memberi nasihat, bekerja lebih baik daripada mengemis karena mengemis akan membawa noda hitam di wajah ketika hari kiamat. Menghadapi kasus seperti itu, Rasulullah tidak lantas memberi nasihat, tetapi memberi solusi terlebih dahulu. [apt]
Masjid Al Irsyad ketika matahari terbenam, 27 Oktober 2017
Komentar
Posting Komentar